King Of Tallo King Of Tallo King Of Tallo Born IN 1421 in Makassar

Sabtu, 24 Maret 2012

KETUA LEMBAGA ADAT TALLO

ketua Lembaga Adat Kerajaan tallo I  Paricu Dg Manaba Krg Tanete
 M. akbar Amir sultan Aliyah Magau Tallo X1X.  sedang membaca
peta Sutra di Benteng fort rotterdam. makassar. ujung pandang sulsel.

Ketua Lembaga Adat Tallo Berfoto bersama keluarga

Ketua lembaga Adat tallo ber foto bersama keluarga seusai menyerahkan mimbar di masjid lalabata,( agang Nionjo) masjid besar kerajaan Tanete , di tanete rilau  bulan januari tahun 2012.

Makam La patau Petta Sogie,Petta pallase"lase"e

Makam La patau Petta Sogie,Petta pallase"lase"e Arung tanete ke V111, raja islam pertama di tanete
 9 jumadil awal 1051   11-20 sep 1605.,beliau memimpin rakyat nya dengan damai dan tentram, karena beliau sebagai raja islam pertama di kerajaan tanete, yang dulunya kerajaan AGANG  NIONJO.

Jumat, 23 Maret 2012

masjid tertua no 2 di sulawesi selatan


Masjid  LALABATA,( lailatul qodary ) di TANETE  RILAU. adalah masjid tertua di sulsel no 2 setelah masid
 katangka di GOWA.,masjid lailatul qodary, adalah masjid besar nya, kerajaan agang nionjo, atau kerajaan
 TANETE. .di barru, sulsel.

Kamis, 22 Maret 2012

selamat datang indonesia


Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.
Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.
Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.